Minggu, 21 September 2014

Renungan Menjelang Hari Jadi Indramayu ke 487



Hampir satu tahun waktu telah berlalu.
Hanya do’a yang menghubungkan kami.
Tapi entah mengapa....
Menjelang Hari Jadi Indramayu diperingati, hal ini harus terjadi.
Mesti disampaikan kembali.
Sejarah Indramayu yang sejatinya.
Menurut versi orang yang sering dikatakan sebagai Pendiri tanah subur loh jinawi ini.
Raden Aria Wiralodra.

Lelaki bujang yang menembus wana di masa lalu, menuju sisi Sungai Cimanuk.
Membentuk pemerintahan.
Pulang kembali ke Bagelen.
Dalam duka nestapa, merana karena cinta.
Hingga wafat dalam pangkuan kakanda, Nyi Bagelen.




Lama sudah pusara beliau merana.
Berbeda dengan makam lain di astana kerajaan umumnya.
Sama sekali tak terawat.
Hamparan bata merah berlumut menjadi ciri.
Hanya pohon Nagasari menjadi saksi.
Sisik naga dan angrek liar menemani.
Tanpa sanak, kerabat, saudara mengenali.
Juga orang-orang yang selama ini selalu bangga menamakan diri sebagai anak-cucunya.

Setahun lalu saya menyampaikannya lewat

Agar jangan terus terlarut dalam kesalahan.
Salah satunya menganggap kuburan megah di Desa Sindang sebagai makam beliau.
Tidak, wilayah Nyi Endang Dharma itu sungguh sangat menyesakkan hati beliau.  Hingga untuk bertandang pun sama sekali tidak mau.
Salah yang lain menetapkan 1 Muharram 934 H sebagai hari pertama beliau meninggalkan Bagelen ke tanah tujuan.  Akibatnya berdampak kepada salah berikutnya dengan menetapkan tanggal tersebut sebagai 7 Oktober 1527 M.
Kesalahan berikutnya kalau ada wacana mekarnya wilayah sangat luas ini menjadi Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Indramayu Barat dengan batas wilayah yang tidak sesuai sejarah.  Dengan mengaburkan wilayah Pemerintahan Wiralodra dan babadan Nyi Endang Dharma.

Semoga tidak ada kesalahan ikutannya.....
Insya Allah juga kemajuan di masa yang akan datang.
Aamiin YRA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar